Cerita Inspirasi

Nama : Rizky Auliarisya Alifa

NIM : G64100109

Laskar 8

Buah dari Kerja Keras

Ayahku adalah ayah yang paling hebat. Beliau berasal dari keluarga yang biasa biasa saja, tapi berhasil mendidik anak – anaknya sampai seperti ini.

Ayahku berasal dari suatu daerah di ibukota Jakarta, daerah tempat tinggal ayahku termasuk daerah kumuh dan kotor. Tetangganya banyak yang menjadi pemabuk, tukang judi ataupun pengedar narkoba. Tapi beliau terus berusaha untuk meraih mimpinya.

Seperti aku, ayahku pun berhasil masuk IPB. Beliau berhasil masuk ke jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Akhirnya waktu pun berlalu, beliau berhasil lulus dari IPB dengan IP yang tinggi yaitu 3,8.

Lulus dari IPB, ayahku mengikuti tes beasiswa S2 ke Jerman, dan yang mengejutkannya beliau berhasil menembus seleksi tersebut, akhirnya berangkatlah beliau ke Jerman. Sayangnya, ternyata hidup di negeri orang tidak semudah dibayangkan, lembaga hanya memberikan biaya untuk kuliah S2 – S3 dan biaya hidup satu orang. Sementara ayah saya membawa seorang istri dan dua orang anak yaitu saya dan adik saya.

Akhirnya ayah sayapun memutuskan untuk menjadi loper koran. Beliau bangun tiap pagi buta untuk mengantarkan koran kerumah – rumah, bahkan pada musim dingin yang dinginnya sangat menusuk.

Tetapi ternyata semua yang beliau lakukan tidak sia – sia, ia berhasil menyelesaikan S2 dan S3 nya dengan nilain yang gemilang. Memang perjuangan yang keras menghasilkan hasil yang manis diakhir.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita Inspirasi Diri Sendiri

Nama : Rizky Auliarisya Alifa

NIM  : G64100101

Laskar : 8

CERITA INSPIRASI DIRI

Be Thankful, Be Happy

Cerita ini adalah kejadian nyata yang saya alami sendiri. Kejadian ini terjadi  ketika saya duduk dikelas 2 SMP. Kejadiannya bermula ketika saya hendak membeli sepatu.

Untuk ukuran anak perempuan, kaki saya bisa dibilang tidak normal. Telapak kaki saya tidak panjang tetapi sangat lebar. Karena itu sangat sulit bagi saya untuk menemukan sepatu yang pas. Pada hari itu, saya sudah berniat akan membeli sepatu disalah satu pusat perbelanjaan di Bogor. Sayangnya, sudah banyak toko sepatu saya datangi tetapi tetap saja tidak ada yang pas karena kaki saya yang ‘istimewa’. Saya merasa dongkol sekali saat itu dan langsung mengeluh “Kenapa saya diberi bentuk telapak kaki seperti ini, sementara adik – adik saya tidak?” karena kebetulan itu bukan kejadian yang pertama.

Untuk mengurangi kedongkolan saya, ibu saya mengajak makan. Tiba – tiba saja di foodcourt saya bertemu dengan seorang anak seumuran saya yang berjalan memakai kruk. Setelah saya perhatikan, anak tersebut ternyata Cuma memiliki satu kaki. Pada saat itu saya langsung tertohok, saya terus menerus mengeluh tentang bentuk kaki saya sementara anak didepan saya itu tidak memiliki kaki.

Kejadian tersebut mengajarkan saya untuk bersyukur atas apa yang kita miliki walaupun tidak sempurna. Mungkin memang hanya kejadian kecil. Tapi berbekas di hati saya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment